Assalamualaikum
warrahmatullahi wa barkaatuh,
Ukhti pernah tidak kalian merasa dilema saat mendapat haid ?. Pasti ada yang penasaran nih tentang bagaimana menjaga kebersihan tubuh saat mendapat haid. Di masyarakat kita banyak rumor yang beredar tentang larangan atau hal-hal yang tidak boleh kita lakukan saat haid, contohnya jangan memotong kuku dan jangan keramas atau mencukur rambut. Disini kita akan membahas bagaimana menjaga kebersihan tubuh saat haid menurut hukum islam dan tentunya dilihat dari segi kesehatannya.
Bismillahirahmanirrahim.. kita
bahas satu persatu ya ukhti...
Apakah boleh memotong kuku dan rambut saat haid ?
Pertama kita lihat dari hukum islam, tidak ada riwayat untuk larangan memotong kuku ataupun mencukur rambut bagi wanita yang sedang haid dan tidak ada pula riwayat ataupun hadits yang menganjurkan wanita menyertakan atau membawa potongan kuku atau rambut yang sudah dipotong tersebut untuk dibawa saat mandi besar/ bersuci paska haid.
Dasar hukumnya adalah :
1. Ibnu Hajar Al-Haitsami
dalam kitab Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj
(تحفة المحتاج في شرح
المنهاج) V/56 menyatakan: النص على أن الحائض تأخذها " انتهى يعني الظفر
والعانة والإبط
Artinya: Menurut nash madzhab Syafi'i, perempuan haid boleh memotong kuku, bulu kemaluan, dan bulu ketiak.
2. Disebutkan dalam hadis dari
A’isyah, bahwa ketika Aisyah mengikuti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam, sesampainya di Mekkah beliau mengalami haid. Kemudian Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
…..دعي عمرتك وانقضي رأسك وامتشطي
“Tinggalkan umrahmu, lepas
ikatan rambutmu dan ber-sisir-lah…” (HR. Bukhari 317 & Muslim 1211)
Menurut madzhab Syafi'i,
perempuan haid boleh memotong kuku, bulu kemaluan, dan bulu ketiak.
3. Ibnu Taimiyah dalam Majmuk al-Fatawa (21/120) menyatakan: وما أعلم على كراهية إزالة شعر الجنب وظفره دليلا شرعيا
Artinya: saya tidak menemukan dalil syar'i atas makruhnya menghilangkan rambut dan memotong kuku bagi orang junub.
Ukti pasti pernah mendengar,
jika ada orang yang memotong kuku atau rambutnya ketika belum selesai haid maka
semua bagian tubuhnya ini akan menuntut pada pemiliknya di hari kiamat.
Syaikhul Islam memberi jawaban
قد ثبت عن النبي صلى الله عليه و
سلم من حديث حذيفة ومن حديث أبي هريرة رضي الله عنهما : أنه لما ذكر له الجنب فقال
: إن المؤمن لا ينجس. وفي صحيح الحاكم : حيا ولا ميتا
“Terdapat hadis shahih dari
Hudzifah dan Abu Hurairah radliallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ditanya tentang orang yang junub, kemudian beliau
bersabda, ‘Sesungguhnya orang mukmin itu tidak najis.’ Dalam shahih
Al-Hakim, ada tambahan, ‘Baik ketika hidup maupun ketika mati.’
Al-Ghazzali dalam kitab
Ihya’ Ulumiddin;
ولا ينبغي أن يحلق أو يقلم أو يستحد أو يخرج الدم أو يبين من نفسه جزءا
وهو جنب إذ ترد إليه سائر أجزائه في الآخرة فيعود جنبا ويقال إن كل شعرة تطالبه
بجنابتها
إحياء علوم الدين (2/ 51)
إحياء علوم الدين (2/ 51)
“Tidak seyogyanya mencukur rambut, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mengeluarkan darah, atau memisahkan anggota tubuh dalam keadaan Junub, karena seluruh anggota tubuh akan dikembalikan di akhirat, sehingga kembalinya dalam keadaan junub. Konon, setiap satu rambut kan menuntut hamba karena Janabahnya itu” (Ihya Ulumuddin, vol.2 hlm 51)
Maka keyakinan ini adalah keyakinan yang tidak bisa dipegang. Kepercayaan ini tidak didasarkan pada riwayat yang shahih dan tidak dinyatakan dalam Al-Quran dan Assunnah baik secara eksplisit maupun implisit. Imam Al-Ghazzali sendiri mengutip statemen tersebut tanpa menjelaskan asal-usul riwayat berikut sanadnya. Ibnu ‘Utsaimin dalam “Fatawa Nur ‘Ala Ad-Darbi” berpendapat bahwa larangan bersisir saat Haid, atau memotong kuku hanya dinyatakan dalam kitab-kitab Ahli Bid’ah seperti Muhammad Yusuf Al-Ibadhy dalam kitabnya “Syarhu An-Nail Wa Syifa’-u Al-‘Alil”.
Wa Allahu 'alam
bishowab,,,
Kedua, kita akan
membahas pentingnya menjaga kebersihan saat hadi terutama kebersihan kuku dan
rambut
Allah sangat
menyukai kebersihan karena kebersihan merupakan sebagian dari iman, biasanya
kuku yang sudah panjang rawan terkena kotoran terutama kuku jari-jari
kaki. Kotoran yang masuk ke dalam kuku jari kaki biasanya lebih berbahaya
daripada kotoran yang ada di kuku jari tangan. Hal ini karena kuku jari kaki
kita lebih rentan kemasukan berbagai macam kuman yang berada di tanah. Kontak
langsung antara kaki dan tanah membuat kuman dan penyakit lebih dengan sangat
mudah masuk ke dalam tubuh.
Dalam Syari’at Islam
telah melarang memanjang kuku. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah
menyatakan: “Memanjangkan kuku adalah menyelisihi ajaran As-Sunnah.
Dengan begitu
menjaga kebersihan kuku ataupun rambut tetap harus dijaga ya ukhti, walupun
dalam keadaan haid. Semoga uraian diatas bisa bermanfaat untuk kita semua.
Aaaamin Yarabbal’Allamin .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar